Education, Facts, Insights

Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) dan Studi Kasus Singapura

Setiap tiga tahun sekali, Indonesia dievaluasi oleh Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dengan indikator yang mengukur kompetensi siswa Indonesia di tingkat global yang dinamakan Programme for International Student Assessment (PISA).  Dalam 10-15 tahun terakhir, Indonesia stagnan berada di peringkat 15 dari paling belakang. Hal ini menandakan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia masih jauh dan sulit bersaing dengan negara lainnya. 

Apa itu Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA)? 

PISA adalah Program Penilaian Pelajar Internasional yang mengukur kompetensi siswa di Indonesia pada tiga indikator utama seperti Matematika, Literasi dan Sains. Dalam PISA, aktor utama yang diukur sebenarnya bukanlah kemampuan siswa atau guru, tapi justru pemerintah. Bagaimana program pemerintah dapat membantu penggerak pendidikan mencapai tujuan yang diinginkan.  

Sayangnya, dalam evaluasi di tahun 2018, Indonesia mengalami penurunan yang cukup besar. Sebelumnya di tahun 2015, kita mendapat ranking 64, namun di tahun 2018 kita justru menjadi peringkat 74 dari 79 negara. 

Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) dan Studi Kasus Singapura
PISA Ranking 2018

Sebenarnya faktor apa saja yang mempengaruhi penurunan skor PISA di Indonesia? 

1. Kompetensi Guru Rendah 

Di Indonesia masih banyak guru yang tidak menguasai kemampuan pedagogik secara keseluruhan. Hal ini juga dikarenakan tidak ada batasan khusus untuk menjadi seorang guru, terlebih di lingkup swasta, banyak guru yang berasal dari latar belakang yang bukan pendidikan. Sebagai penggerak utama pendidikan, kompetensi guru sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pendidikan. 

2. Kurang Memaksimalkan Penggunaan Teknologi 

Walaupun pendidikan di Indonesia sudah mulai beralih dengan proses KBM digital. Aktivitas yang berkaitan dengan peningkatan literasi, numerasi dan sains masih kurang. Pada prakteknya, mayoritas aktivitas yang dilakukan yaitu akselerasi visual dimana siswa diminta untuk menonton video konten pembelajaran. Sehingga, pelatihan dalam membaca, menghitung ataupun mengerjakan proyek kurang dimaksimalkan. 

3. Eksistensi Perpustakaan Tidak Dimaksimalkan

Minat siswa membaca bertambah rendah dikarenakan perpustakaan yang ada di sekolah-sekolah masih banyak yang kurang diperhatikan. Misalkan posisi perpustakaan yang berada di pojok, sehingga tidak ada siswa yang lalu lalang melintas. Atau buku-buku yang sudah jadul dan berdebu. 

Permasalahan penurunan skor PISA ini direspon oleh Kemendikbud Ristek lewat program dan strategi yang bisa mendukung perbaikan kualitas pendidikan. Beberapa diantaranya yaitu pengembangan marketplace pendidikan secara online, Program Guru Penggerak, dan merancang Asesmen Nasional.  

Asesmen Nasional adalah instrumen yang dirancang untuk mewujudkan transformasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. Tiga program dari Asesmen Nasional yaitu:

  1. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM): Pengukuran literasi membaca dan numerasi sebagai hasil belajar kognitif
  2. Survei Karakter: Mengukur sikap, kebiasaan, nilai-nilai sebagai hasil belajar non-kognitif
  3. Survei Lingkungan Belajar: Mengukur kualitas pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran

Singapura adalah salah satu negara yang mendapat peringkat ke 2 dalam ranking PISA. Jarak Indonesia dan Singapura hanya 883 km, tapi jarak peringkat yang jauh ini menjadi pertanyaan sekaligus pembelajaran bagi kita. Bagaimana Singapura berhasil mencetak skor tinggi dalam PISA dan strategi seperti apa yang dijalankan pemerintahannya? 

Case Study Singapura sebagai negara dengan skor PISA tertinggi:

  1. Investasi pada sumber daya manusia. Guru merupakan prioritas utama nasional di Singapura, selain seleksi yang ketat, Singapura juga menyiapkan alokasi dana untuk pengembangan kompetensi pedagogik guru baik dengan memberikan beasiswa maupun pelatihan ekstensif selama beberapa tahun. Setiap tahunnya, hanya 5% yang dapat memenuhi kualifikasi untuk menjadi guru. 
  1. Kurikulum dasar diperkuat. Di Singapura, siswa kelas dasar diajak untuk memahami konten pembelajaran. Siswa diminta untuk memahami hasil perhitungan, dan konsep pembelajaran diperjelas dengan contoh kasus sekitar. Siswa di Singapura diajak untuk memahami konteks, bukan mengingat atau menghafal. 
  1. Setiap kebijakan dibuat berdasarkan Research & Development. Singapura mengadopsi pendekatan holistik dan fleksibel dalam pembuatan kebijakan di bidang pendidikan. Pemerintah aktif bersinergi dengan orang tua, guru dan siswa untuk memahami kebutuhan serta tujuan yang ingin dicapai bersama. Sehingga setiap keputusan yang dibuat berdasarkan kebutuhan bersama. 

Dari studi kasus Singapura ini kita dapat menyimpulkan Kemendikbud Ristek yang saat ini dipimpin oleh Nadiem Makarim sedang menuju perubahan seperti Singapura. Misalnya strategi Ujian Nasional yang dihapuskan dan diganti dengan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) atau pengembangan sumber daya lewat program guru penggerak yang hadir di berbagai kota. Pastinya perubahan ini akan bertahap mengingat jumlah penduduk di Indonesia ada 275 juta, sedangkan  Singapura hanya 5 juta. 

Sebagai guru, langkah apa yang sudah Bapak dan Ibu ambil untuk mengembangkan literasi di dalam kelas? 

Leave a Reply

Your email address will not be published.